Cinta Sepenuh Hati II: Maaf

“Para penumpang yang terhormat, dalam beberapa saat lagi pesawat ini akan mendarat. Silakan duduk di kursi Anda masing-masing serta kencangkan sabuk pengaman Anda!” Seorang pramugari memberikan informasi melalui speakerphone pesawat. Teddy memperbaiki sabuk pengamannya yang memang tidak pernah dia lepas sejak duduk dan pesawat berangkat. Pesawat yang membawanya pulang ke Kota Kayu. Pulang kepada Karen.

Karen. Ada rasa bersalah terbersit di hati Teddy. Sejak kejadian malam itu, dia dan Karen tak pernah membicarakannya. Namun, Teddy tahu, Karen tidak akan pernah lupa.

Teddy teringat akan malam sebelum keberangkatannya ke Kota Buaya. Karen menyambut kepulangannya dari lembur dengan lingerie berkonsep Fairy Princess lengkap dengan sayapnya. Lingerie cantik yang membuat tubuh putih dan mulus Karen makin memesona. Terbuat dari kain putih yang lembut dan tembus pandang. Hanya ada ornamen dua bunga yang letaknya di puncak dada Karen. Menggemaskan.

Teddy tiba-tiba menjadi segar kembali. Suami mana coba yang tidak bahagia ketika lelah mendera pulang kerja, dia pulang dan disambut istri dengan penuh gairah? Karen berhasil mengembalikan gairahnya. Karen begitu cantik!

Seperti biasa, Karen meraih tangan Teddy dan menciumnya. Jika biasanya Teddy membalas dengan mencium kening Karen, kali ini Teddy langsung meraih istrinya itu. Diciumnya bibir Karen. Yang dicium balas mencium. Makin lama makin dalam. Tanpa banyak basa-basi, Teddy mengendong Karen menuju kamar mereka.

Lalu tibalah saat Teddy harus melakukan kewajiban sebagai suami terhadap Karen. Wajah Karen langsung pucat. Teddy tahu, Karen pasti ketakutan sekarang.

“Karen, kamu mau punya anak?” Bisik Teddy lembut. Karen mengangguk cepat. Sisa rangsangan bertubi-tubi Teddy masih melekat di otaknya.

“Kalau gitu, tahan ya, sayang!” Bimbing Teddy. Teddy pun membaringkan Karen. Dia melakukannya sepelan mungkin. Teddy tahu dia tidak bisa tergesa-gesa. Karen akan kesakitan bila dia tak bisa bersabar. Dan semuanya akan berantakan. Percobaan enam bulan yang melelahkan.

Tiba-tiba Karen berteriak, “Aduuuhhh!!! Teddy, sakiiittt!!!! Sakiiittt!!!”

“Tahan ya, Sayang! Tahan! Kamu pingin hamil, kan?” Teddy mencoba meredakan kepanikan Karen. Selalu begitu! Batin Teddy. Namun, sekali lagi, setelah berulang kali, Karen menendang Teddy. Teddy termangu. Hilang sudah geloranya. Lemas sudah semuanya. Teddy merasa kesal sekali pada Karen. Selalu begini!

“Salahku apa, sih? Kenapa kamu nolak aku terus, Ren?” Teddy sedikit membentak.

Karen terdiam, meringkuk di balik selimut, menutupi tubuhnya yang tak berbusana. Teddy melihat air mata Karen. Namun, entah kenapa kali ini dia tak tersentuh hatinya sedikitpun. Teddy merasa terlalu kesal.

“Aku gak nolak kamu, Ted. Aku kesakitan. Rasanya seperti sekarat.” Jawab Karen tersedu.

“Ah, kamu berlebihan! Mana ada orang bercinta sesakit itu?” Sahut Teddy kesal. “Ini sudah enam bulan, Ren! Aku malu ditanya terus sama teman-teman. Dianggap aku nggak mampu bikin anak!”

Karen masih menangis. Teddy menarik selimut dan tidur memunggungi Karen.

“Sudahlah! Nggak usah nangis! Besok juga kamu pasti lupa!” Kata Teddy sebelum tidur.

“Aku nggak akan lupa, Ted. Aku nggak pernah lupa.” Jawab Karen pelan, masih tersedu.

***

Pesawat mulai bergoncang, pramugari menginformasikan bahwa pesawat melewati gugusan awan tebal. Rasanya seperti naik mobil di atas jalan hutan. Orang yang duduk di sebelah kanan dan kiri Teddy terbangun. Di kanan Teddy, di dekat jendela, duduk seorang gadis sepantaran adiknya yang masih kuliah semester tiga di ITS. Di kirinya, di dekat lorong, ada bapak separuh baya yang sepertinya pernah menjadi mitra kerja perusahaan Teddy. Tapi Teddy tak ambil pusing dengan mengajak bapak itu mengobrol, Teddy tak ingat di mana dan kapan mereka bekerja sama. Lagipula, bapak ini tadi tidur terus sepanjang perjalanan.

Pesawat masih bergoncang, tiba-tiba Teddy teringat pada Karen. Sedang apa dia sekarang? Apakah dia menangis lagi setelah mengantarkannya ke bandara? Rasa bersalah kembali mendera Teddy. Kalau sampai aku melihat mata Karen sembab saat menjemputku, akan kupeluk dan kucium dia saat itu juga! Aku nggak peduli sama orang lain! Batin Teddy.

Teddy jadi teringat saat pertama ia melihat Karen. Dia langsung jatuh cinta kepada gadis itu. Gadis yang aktif di organisasi kampus. Karen bukan yang tercantik di kampusnya. Wajahnya rata-rata. Hanya saja, dia manis sekali. Wajahnya bulat dibingkai rambut lebat berwarna coklat gelap sebahu, kulitnya putih langsat, mata sipit dengan hidung agak rendah, dan bibir mungil berwarna merah kehitaman, bersinergi membentuk sebuah lukisan indah ciptaan Tuhan di wajah Karen. Senyumnya memesona Teddy. Dan setelah enam tahun berpacaran, Teddy menikahi gadis yang tingginya 165 sentimeter itu. Sebelumnya Teddy mengira pernikahannya dengan Karen baik-baik saja, seperti kawan-kawannya yang lain. Sebulan setelah pernikahan, Karena akan hamil, dan melahirkan sembilan bulan kemudian. Apa salahnya sampai ini terjadi padanya dan Karen?

Pesawat terbang rendah, sebentar lagi mendarat. Teddy menghela nafas penuh syukur. Sepertinya pesawat ini dan seisinya berhasil melewati ancaman maut di angkasa.

Wajah Karen membayang di benak Teddy. Baru dua hari dirinya meninggalkan karen, tapi rasa rindunya tak tertahankan. Teddy menyadari, bagaimanapun keadaan Karen, dia mencintai istrinya. Dia mencintai karen sehingga tak mungkin rasanya dia mengikuti kata-kata Karen untuk menikah lagi saat dirinya mengeluh akan ketidakmampuan karen di atas ranjang.

“Mau sampai kapan kita seperti ini, Ren? Aku ingin merasakan yang suami lain rasakan. Dari sejak menikah sampai sekarang, aku tidak tahu bagaimana rasanya bercinta itu!”

Seperti biasa, Karen mulai menangis, sedih akan ucapan Teddy.

“Bukan maksudku, Ted. Aku juga ingin ngerasain yang kayak di tivi-tivi tuh. Perempuannya rasanya nikmatin banget! Aku pengen kayak gitu juga! Tapi gimana lagi? Sakitnya aku nggak tahan, Ted!” Karen terisak sebentar.

“Gini aja lah, kalau kamu memang pingin banget ngerasain apa yang suami lain rasakan, menikah sajalah lagi! Aku sadar aku yang nggak bisa membahagiakan kamu. Aku izinkan kamu menikah lagi!” Karen berkata menggebu-gebu, lelah didera rasa bersalah.

“Dan kalau kamu merasa gak mampu punya dua istri, aku rela mengalah. Aku rela kamu ceraikan supaya kamu ngedapetin kebahagiaan yang kamu inginkan!” Karen mengakhiri kata-katanya dengan masih menangis.

Teddy terdiam. Percakapan mereka berakhir. Seperti biasa, mereka menganggap tidak ada apa-apa lagi. Selesai. Mereka pun melanjutkan hari seperti biasa. Malamnya bercinta seperti biasa, dan gagal seperti biasa.

Pesawat yang harusnya sudah mendarat, tiba-tiba terbang kembali. Sang pilot tidak dapat menemukan celah di antara tebalnya awan agar pesawat mendarat dengan baik. Gadis di sebelah kanan Teddy gemetar, memegang rosarionya dan berdoa. Bapak di sebelah kiri Teddy berkomat-kamit mengucapkan Doa Nabi Yunus. Semua penumpang panik

Teddy malah teringat Karen. Akankah dia bisa tetap hidup untuk meminta maaf pada kekasihnya itu? Karen, maafkan aku… Lirih hati Teddy berbisik.

Setelah beberapa kali berputar di udara dan membuat semua penumpang panik, pesawat itu akhirnya mendarat. Teddy segera keluar lalu mencari Karen.

Wajah yang sudah dirindukannya itu muncul di sela-sela kerumunan penjemput. Teddy segera menghampiri Karen. Karen memamerkan senyumnya. Senyum yang membuat Teddy nyaris menangis karena rasa bersalah. Karen meraih tangah Teddy dan menciumnya. Teddy malah memeluk Karen erat.

“Maafkan aku, Sayang! Maafkan aku! Tahukah kamu betapa aku merindukanmu?” Ucap Teddy di telinga Karen.

Karen hanya terdiam, agak terkejut atas reaksi Teddy yang sedikit di luar dugaan. Tapi kemudian ia tersenyum. Sebelum Teddy meminta maaf, Karen sudah memaafkannya. Bagaimana tidak? Karen mencintai suaminya, bagaimana bisa ia tidak memaafkan Teddy?

Karen menyerahkan kunci mobil pada Teddy. Teddy meraihnya dan menggandeng tangan Karen untuk pulang. Ada janji di hati Teddy, ia akan menemani Karen sampai kapan pun. Dia akan sabar terhadap apa yang karen hadapi. Dia tidak akan mengecewakan karen lagi.

Cinta Sepenuh Hati I: Apapun Untukmu

Karen termangu di depan cermin. Dipandanginya siluet suaminya yang tertidur pulas dibungkus selimut. Air matanya menetes. Enam bulan sudah sejak hari pernikahan mereka. Namun, tak satu hari pun Karen maupun suaminya merasakan kebahagiaan sepasang manusia dewasa dalam pernikahan.

Semua bermula pada malam pertama, saat pertama kali Karen menjalankan tugas sebagai seorang istri. Karen bisa mengingat semuanya: ternyata membuat anak itu sangat menyiksa.

Karen dapat mengingat semua seperti peristiwa itu baru terjadi semenit yang lalu. Sakit luar biasa yang berasal dari dalam kemaluannya, menjalar ke kedua kaki juga kepalanya. Karen merasa seperti sedang bergulat melawan Malaikat Maut.

Sejak saat itu, sesi bercinta dengan suaminya pasti diakhiri dengan ketakutan dalam diri Karen. Awalnya Teddy, suami Karen, sangat sabar, “Kita coba besok, ya!” Ucap Teddy penuh pengertian. Tapi lama kelamaan Teddy menunjukkan sikap tidak suka dan sikap itu makin terasa seiring berjalannya waktu.

Karen tidak menyalahkan Teddy. Sudah enam bulan! Teman-teman Karen yang menikah hampir berbarengan dengannya sudah hamil dan menghitung bulan kelahiran. Tinggal dia yang belum ada kemajuan apa-apa. Bagaimana bisa? Bahkan bercinta saja mereka tidak sempurna.

“Karen, gimana kabarmu, Nak? Sudah haid bulan ini?” Itu pertanyaan yang selalu diucapkan Umah, ibu Karen, saat menelepon dirinya. Membuat beban Karen bertambah saja!

“Aku malu ditanya terus sama teman-teman. Dianggap nggak mampu bikin anak!” Kalimat itu keluar dari Teddy, suaminya.

Sekali lagi Karen tidak bisa menyalahkan Teddy. Dia sudah begitu sabar terhadap Karen. Wajar kalau sekarang Teddy mulai merasa kesal mengingat Karen sama sekali tak ada kemajuan.

Karen memandangi wajahnya di cermin. Dia berwajah manis. Nyaman dilihat, paling tidak. Reproduksinya normal, biologis mendukung, haid teratur. Empat dokter spesialis Obstetri-Ginekologi (DSOG) yang didatanginya mengatakan tidak ada masalah dengan kandungannya. Semua kembali kepada Karen.

Semua kembali kepada Karen!

***

Sebuah Toyota Yaris perak membelok ke arah yang berlawanan dengan rumah Karen. Walaupun Teddy sudah melarang Karen berkonsultasi ke DSOG lagi, tapi Karen merasa dia harus pergi. Di kotanya ada lima DSOG, dan dari lima itu, empat sudah didatanginya. Masih ada harapan satu DSOG lagi, siapa tahu dia memberikan solusi yang masuk akal.Solusi nyata, bukan sekedar ucapan “kembali kepada Anda!”

Setelah mengantarkan Teddy ke bandara untuk dinas luar ke Kota Buaya, Karen berkunjung ke DSOG terakhir di Kota Kayu itu meski tanpa izin dari suaminya. Karen memarkir Toyota Yaris peraknya di depan Apotek Risca, tempat dr. Eko, Sp.OG praktik. Setelah menunggu beberapa saat, nama Karen pun dipanggil.

Dokter Eko ternyata sudah separuh baya umurnya, sekitar 45 tahun. Kulitnya kuning, seperti layaknya kulit asli orang Kota Kayu. Padahal kalau dilihat dari namanya, nama Eko bukan nama yang lazim di Kota Kayu ini. Sang dokter menyambut Karen dengan ramah.

“Apa yang bisa saya bantu, Bu?” Sapa dr. Eko.

“Saya selalu merasakan kesakitan saat intercouse, Dok.” Jawab Karen. Dia merasa tak ada gunanya bertele-tele dan malu-malu seperti yang sudah dia lakukan kepada empat DSOG sebelumnya. Karena malu-malu itulah, Karen mendapatkan jawaban yang sangat tidak memuaskan.

Sang dokter hanya memandang Karen. Lalu dia mengajukan beberapa pertanyaan sederhana. Karen menjawab semuanya juga mengatakan bahwa dokter tersebut adalah DSOG kelima yang dia datangi. Maksudnya, tolong, jangan ulangi nasihat DSOG-DSOG sebelumnya.

Ketika sang dokter tiba pada ucapan: “Semua kembali kepada Anda, Nyonya Karen!” Karena tak mampu lagi membendung air matanya. Dia menangis. Dengan tersedu Karen bercerita bahwa semua dokter berkata demikian dan tak satupun memberikan solusi.

“Beri saya obat, apa saja, Dok! Yang membuat saya tidak lagi merasakan sakit. Apa saja! Walaupun dengan obat itu ternyata saya tidak merasakan apa-apa, saya tidak peduli! Saya ingin menyelamatkan rumah tangga saya, Dok! Beri saya obat, Dok!” Rengek Karen tersedu-sedu. Itulah alasan Karen berangkat ke DSOG, dia ingin meminta resep obat yang membuat dirinya sama sekali tidak merasakan sakit saat bercinta. Walaupun untuk itu dia tidak akan merasakan apa-apa. Karen tak peduli. Dia hanya memikirkan suaminya. Karen mencintai Teddy dengan sepenuh hatinya.

“Nyonya Karen, saya tidak dapat menganjurkan obat apapun untuk Anda. Maaf sebelumnya, apa Anda sudah pernah berkonsultasi dengan psikiater?”

Karen menggeleng. Psikiater? Jelas belum pernah. Itu dokternya orang gila, ‘kan? Emangnya aku gila? Protes Karen dalam hati.

“Nyonya Karen, apa yang Anda alami sudah masuk ke ranah psikologi dan kejiwaan. Dan itu bukan bidang saya lagi. Begini saja, Anda saya rujuk ke seorang psikiater, bagaimana?”

Karen mengangguk lemah. Apapun itu, asal dia sembuh. Walaupun harus berurusan dengan dokternya orang gila! Karen membatin.

***

Hari itu juga, setelah keluar dari ruang praktik dr. Eko, Sp.OG, Karen melajukan mobilnya menuju Apotek Tessa untuk bertemu sang psikiater. Karen bahkan tidak tahu siapa nama psikiater itu.

Karen melihat papan nama-nama dokter yang praktik di apotek itu. Salah satunya berbunyi “dr. Enade, Sp.Kj.” Itu pasti dokternya! Batin Karen. Karen pun masuk ke dalam apotek dan mendaftarkan diri. Dirinya adalah pasien pertama sang dokter rupanya.

Ruangan praktik dr. Enade ternyata sangat sempit. Hanya ada sebuah ranjang pasien dan sebuah meja dokter. Tidak seperti dokter-dokter lain yang mejanya sangat penuh dengan berkas, meja dr. Enade sangat bersih. Sepertinya sang dokter sangat santai dalam bekerja.

Di hadapan dr. Enade, Karen duduk dan menyerahkan surat rujukan dari dr. Eko, Sp.OG, “Jadi, apa keluhan Anda?” Tanya dr. Enade, tepat setelah ia selesai membaca surat rujukan.

“Dokter Eko sudah menceritakan semuanya dalam surat rujukan itu!” Jawab Karen ketus.

“Betul. Tapi Anda harus tetao bercerita pada saya. Saya sama sekali tidak dapat membantu Anda apabila Anda tidak terbuka pada saya.” Jawab sang dokter tenang.

Cerita Karen pun mengalir deras. Sang dokter kadang menghentikan ceritanya untuk membuat catatan. Karen menangis dalam ceritanya. Sang dokter melakukan beberapa pemeriksaan terhadap tekanan darang Karen.

“Nyonya Karen, Anda sedang mengalami depresi seksual. Untuk menyembuhkannya, bukan hanya Anda yang datang berkonsultasi. Saya harap konsultasi berikutnya, suami Anda juga datang untuk berkonsultasi bersama.”

Karen diam saja sambil mengangguk-angguk.

“Saat ini saya akan memberikan resep untuk Anda. Hanya saja, tolong diingat bahwa ini obat psikotropika. Jadi Anda harus mengonsumsinya sesuai dengan resep yang saya berikan.”

***

Xanax, itu nama obat yang diresepkan dr. Enade pada Karen. Diminum sekali sehari di malam hari sesudah makan. Harus sesuai resep yang diberikan.

Karen menghela nafas. Memangnya apa yang dipikirkan dokter itu? Aku minum Xanax lebih dari sekali sehari? Emangnya aku mau mabuk?

Namun, ada hal lain yang berkelebat di pikiran Karen. Ya, dr. Enade tahu bahwa karen ragu meminumnya. Karena itu sang dokter memerintah Karen untuk mengonsumsi obat itu. Demi Karen sendiri.

Malam itu, Karen masih sendirian. Teddy baru akan pulang besok, Karen meminum sebutir Xanax dengan air putih dan berangkat tidur. Terucap dalam doa sebelum tidurnya, doa keselamatan untuk suaminya, juga dirinya. Doa kebahagiaan untuk suaminya, juga dirinya. Karen akan melakukan apapun, APAPUN, untuk kebahagiaan Teddy, suaminya.

————————–

Arti Hidup Ini

Hidup ini hanya satu kali

Semua orang tahu itu

Namun tak semua menyadari

Arti hidup yang satu kali itu

 

Tak ada yang mengerti

Bahwa jiwa yang menari

Akan terus menari sampai hidup berhenti

 

Tak ada yang coba mengerti

Bahwa hidup yang hanya satu kali

Takkan terulang lagi

 

Tak ada yang coba mengakui

Segala kesalahan

Segala kekhilafan

Yang telah terjadi

 

Semua merasa benar

Dalam hidup yang cuma sekali

Ini…

 

Jurangmangu, 14 November 2001

Ditulis di atas kertas tisu

An English Poem

From a clue that’s in front of me
Makes my brain thinking
About the signs of clue
About the answer

From the motion of Queen of Damned
There is a difficult clue any more
Act as it was nightmare
In my mind

I’m searching…
Searching every time
Wherever it is
Whatever it was

But I’ve not got it
It must have been lost
In the dark

And I don’t have any strength anymore
To catch ’em up
And hug them in my heart

Bintaro, May 8th, 2002
Written on a tissue paper

Ma, di luar hujan, Ma…

Ma, di luar hujan, Ma…
Ma, dingin, Ma…

Tenang, Sayang…
Ada apa sampai kau menangis seperti ini?
Ada apa sampai kau ketakutan seperti ini?
Katakan pada Mama!

Entahlah, Ma…
Hujan tiba-tiba membuatku begitu ketakutan
Apakah ini ada hubungannya dengan ketertutupan kekasihku?

Ketertutupan kekasihmu?
Mengapa begitu?

Aku merasa sendiri
Ketika dia menolak bercerita kepadaku
Tiba-tiba hujan…
Benarkah aku harus belajar menjadi seseorang yang apatis?

Hei, anakku…
Apatis itu tidak baik!
Anak manis harus peduli pada lingkungan!
Apalagi jika dia kekasihmu sendiri…

Tapi, Ma…

Cobalah untuk mengerti!
Mungkin dia hanya butuh waktu
Tetap perhatikan dirinya
Hingga suatu saat, dia akan menyadari bahwa ada kau yang memperhatikan dirinya dan menyayanginya

Benarkah begitu, Ma?

Ya, Sayang…
Jadilah perempuan yang penuh kasih dan perhatian…
Karena itulah perhiasan dunia yang paling indah
Buatlah dia tersenyum bangga karena memiliki perhiasan terindah itu
Kau akan dihargai karenanya…

Baiklah, Ma…
Akan ku coba
Karena aku menyayangi dia

………

Terima kasih, Ma…

Sama-sama, Sayang…

Ditulis di Kantor Pusat Departemen Keuangan, Jl. Lapangan Banteng Timur, Jakarta. Pada 29 November 2004 pukul 11.35 WIB. Sebuah curahan hati Penulis saat itu.

PANDU SEJATI

Rinai hujan menghiasi malam ini
Dingin, sepi, mencekam…
Irama yang mengalun
Gemericik… menakutkan…

Anak negeri bersiap
Pikul senjata laras panjang
Ke medan perang
Barisan terdepan

Anak negeri berebut posisi
Mencari yang terdepan

Bukan…
Bukannya mereka ingin penghargaan
Namun mereka memang ingin membela Ibu Pertiwi

Sekarang…
Jika mereka gugur…
Jika mereka pulang nama…
Siapa yang berani menggantikan mereka?

Perang belum usai
Namun pahlawan telah habis

Bagaimana dengan negeri ini?
Akankah Ibu Pertiwi tetap bersusah hati?

Siapa…
Siapa berani maju ke garis depan?
Tantang musuh…
Korbankan jiwa, raga, dan cinta

Siapa?
Tak adakah?

Dari sekian juta pemuda…
Semuanya pengecutkah?

Ibu Pertiwi membutuhkanmu, para pemuda…
Jadilah pandu sejati!
Lindungi Ibu Pertiwi!

Agar suatu saat nanti
Ibu Pertiwi tak lagi
Bersusah hati
Di usianya yang tak muda lagi

Magelang, 7 Februari 2000
“Di sela hujan yang deras, saat kegiatan belajar malam.”

♥All for One, One for All♥

Gunung Galunggung nan agung
Tegak berdiri memaku bumi
Awan nan setia memayung
Tabir putih terhampar bersih

Hijau luas Lautan Hindia
Membentang sampai Antartika
Dan ikan-ikan di dalamnya
Berenang bebas penuh suka

Salju selimuti Jaya Wijaya
Putih terhampar tanpa batas
Lembut bak Kapas Koala
Sinar mentari pun terbias

Sahabat…
Agungnya Gunung Galunggung
Luasnya Lautan Hindia
Putihnya salju Jaya Wijaya

Tak seagung
Tak seluas
Tak seputih
Kasih antara kita

Seribu kreasi yang kita miliki
satukanlah dalam satu visi

Sahabat…
Persaudaraan antara kita
Semoga tak terputuskan
Bahkan oleh kapak yang paling tajam

Tujuh samudera sekalipun
Takkan dapat menggantikan seorang sahabat
Takkan dapat menandingi cinta kita
Takkan pernah dapat!

Pun bayu yang semilir
Rinai yang berjatuhan
Air yang mengalir
Dan badai yang menerjang
Mampukah mereka mengalahkan kita?

Sahabat…
Patrikan di nuranimu
Nama kita bersama
Tatokan di hatimu
Bias wajah kita

Jangan pernah berpaling, Sahabat…
Jangan pernah pergi
Kita satu, kita saudara
Kita saling mengasihi

Mari berdoa, Sahabat…
Kepada Tuhan yang Maha Esa
Cinta kasih kita
Takkan pernah luntur

Semua untuk satu
Satu untuk semua
All for one
One for all

-For my best friends-
Magelang, 6 Desember 1999, 09:00 WIB

~Dalam rangka ulang tahun SPITA yang ketiga~
“MARCAPRINOVE SPITA … YES”
Yeptirani Syari
Elly Noviyanti
Sanita Rahmawati

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.