Cinta Sepenuh Hati III: Keajaiban

Karen tersenyum. Dipandanginya sebuah foto di telepon selular hitamnya. Gambar dari 3 buah benda berukuran kecil memanjang, disusun berjejer atas-bawah. Benda-benda itu berukuran 5x50mm. Pada benda paling atas, terdapat satu garis berwarna merah, di benda bawahnya terdapat dua garis, yang satu merah, dan satunya lagi merah muda, sedang pada benda paling bawah, terdapat dua garis merah yang menyala. Ya, itu adalah gambar alat testpack. Dalam foto itu, hasil testpack menunjukkan bahwa Karen tengah hamil.

Karen sungguh tak menyangka. Sebelumnya, berkali-kali dia terlambat haid, berkali-kali pula hasil testpack-nya bergaris satu. Sampai-sampai Karen merasa putus asa dan tidak lagi memakai alat testpack saat terlambat haid. Pada bulan kesepuluh pernikahannya dengan Teddy, Karen pernah terlambat haid selama lima hari disertai dengan rasa mual, pusing, dan lemas. Hampir semua orang mengira Karen hamil. Namun hasil tes berkata lain. Lima hari kemudian Karen haid, dan hasil testpack-nya negatif. Sejak saat itu Karen pasrah, tak berani lagi berharap. Teddy pun demikian, mereka sama sekali tidak lagi membicarakan tentang kehamilan atau apapun yang mendekati itu. Mereka bahkan tidak lagi bertengkar apabila kembali gagal bercinta.

Malam itu adalah malam perayaan satu tahun pernikahan mereka. Karen dan Teddy merayakan ulang tahun pernikahan mereka dengan satu lilin kecil di tengah padamnya listrik kota Kayu. Karen sedang haid pada waktu itu. Haid terakhir Karen, karena bulan berikutnya, Karen kembali terlambat haid dengan hasil testpack positif.

Karen tidak dapat mengingatnya dengan pasti. Yang jelas, kehamilannya saat ini merupakan suatu keajaiban. Karen bahkan tak ingat kapan mereka berhasil bercinta pada bulan itu. Sepertinya, semua proses percobaan hubungan mereka diakhiri dengan kegagalan, seperti biasa. Karena itu, pada saat Karen menyadari dirinya sudah terlambat haid selama beberapa hari, dia diam dan tidak memberitahu Teddy tentang hal ini. Karen takut Teddy kecewa bila ternyata keterlambatan itu bukan karena hamil. Cukup dirinya saja yang kecewa, dia tidak sanggup membayangkan bila Teddy juga ikut kecewa.

Setelah sepuluh hari berlalu, Karen akhirnya diam-diam membeli dua buah alat testpack. Sepulang dari kerja, dia juga diam-diam melakukan tes di kamar mandi. Seperti antisipasi Karen, kedua alat testpack itu menunjukkan garis satu. Karen kecewa, ia meninggalkan kamar mandi sebelum sempat membereskan bekas alat testpack yang berserakan.

“Apa ini, Ren? Alat testpack siapa ini?” Tanya Teddy beberapa waktu setelah Karen keluar dari kamar mandi.

“Oh, maaf, belum aku bereskan. Sebentar lagi, ya.” Jawab Karen tanpa memandang ke arah Teddy.

“Kalau garisnya dua, bukannya artinya positif?” Tanya Teddy lagi.

Karen terkejut. Diambilnya hasil testpack dari tangan Teddy. Iya benar, garisnya memang dua walau satunya samar. Karen memandang ke arah Teddy, yang dipandanginya juga sama bingungnya.

“Sebenarnya aku telat sepuluh hari, Ted.” Aku Karen.

“Kita beli alat testpack yang baru, ya! Coba tes lagi besok pagi!” Kata Teddy. Karen mengangguk setuju.

Malam telah larut, Tidak mudah menemukan apotek yang masih buka di kota Kayu di waktu-waktu seperti ini. Rata-rata pengusaha di kota ini menghentikan usahanya sesaat sebelum matahari terbenam. Teddy dan Karen berkeliling kota Kayu untuk mencari apotek yang masih beroperasi. Dan setelah hampir satu jam berkeliling, mereka menemukan satu-satunya apotek yang masih buka. Teddy dan Karen turun dari mobil Toyota Yaris perak mereka dan berjalan memasuki apotek. Apotek ini tidak besar, dan sepertinya, semua resep dapat ditebus di sini. Pramuniaga apotek ini cuma dua orang, satu perempuan dan satu laki-laki, ditambah seorang satpam, total pegawai di apotek 24 jam ini hanya tiga orang. Kota Kayu bukan kota yang rawan kejahatan, bahkan bisa dibilang, kejahatan jumlahnya bisa dihitung jari dalam setahun, wajar rasanya jika apotek ini tidak disertai pengamanan maksimal.

“Mbak, mau beli testpack.” Kata Karen kepada salah satu pramuniaga apotek tersebut.

“Merk apa, Mbak?” Jawab pramuniaga itu.

“Adanya merk apa?” Balas Karen lagi.

Sang pramuniaga menjelaskan beberapa merk alat testpack, kelebihan, dan kekurangannya. Karen akhirnya memilih satu merk alat testpack yang terkenal dan sering muncul iklannya di televisi. Teddy membayarnya, kemudian mereka pulang dalam diam. Hari ini dirasa terlalu panjang bagi mereka berdua.

Sebelum azan Subuh berkumandang, Teddy sudah membangunkan Karen.

“Tes dulu! Di petunjuknya, waktu terbaik untuk pakai testpack tuh di waktu pagi, pipis pertama.” Suruh Teddy.

Karen beranjak ke kamar mandi. Dia langsung terjaga ketika dibangunkan Teddy. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Apa benar aku hamil? Batinnya.

Setelah beberapa waktu, Karen pun keluar dari kamar mandi. Di tangannya ada sebuah kertas alat testpack dengan garis dua berwarna merah menyala.

“Positif!” Seru Karen tersenyum. Teddy balas tersenyum.

“Mau periksa ke dokter siapa?” Tanya Teddy.

“Dokter Eko saja, dekat dari rumah.” Jawab Karen mantab.

———-

“Karen, ayo!” Seru Teddy membuyarkan lamunan Karen. Hari ini adalah jadwal kontrol kandungan ke Dokter Eko. Karen tersenyum dan beranjak dari meja riasnya. Hari ini mungkin Karen akan tahu jenis kelamin anaknya. Ah, laki-laki atau perempuan, sama saja, sama-sama anugerah dari Tuhan, seru Karen dalam hati.

Karen berjalan menuju mobilnya. Di sana sudah ada Teddy di belakang kemudi, menyalakan mesin mobil. Mobil itu kemudian melaju meninggalkan rumah, menyambut calon penghuni baru rumah Karen dan Teddy.

——————-