Cinta Sepenuh Hati I: Apapun Untukmu

Karen termangu di depan cermin. Dipandanginya siluet suaminya yang tertidur pulas dibungkus selimut. Air matanya menetes. Enam bulan sudah sejak hari pernikahan mereka. Namun, tak satu hari pun Karen maupun suaminya merasakan kebahagiaan sepasang manusia dewasa dalam pernikahan.

Semua bermula pada malam pertama, saat pertama kali Karen menjalankan tugas sebagai seorang istri. Karen bisa mengingat semuanya: ternyata membuat anak itu sangat menyiksa.

Karen dapat mengingat semua seperti peristiwa itu baru terjadi semenit yang lalu. Sakit luar biasa yang berasal dari dalam kemaluannya, menjalar ke kedua kaki juga kepalanya. Karen merasa seperti sedang bergulat melawan Malaikat Maut.

Sejak saat itu, sesi bercinta dengan suaminya pasti diakhiri dengan ketakutan dalam diri Karen. Awalnya Teddy, suami Karen, sangat sabar, “Kita coba besok, ya!” Ucap Teddy penuh pengertian. Tapi lama kelamaan Teddy menunjukkan sikap tidak suka dan sikap itu makin terasa seiring berjalannya waktu.

Karen tidak menyalahkan Teddy. Sudah enam bulan! Teman-teman Karen yang menikah hampir berbarengan dengannya sudah hamil dan menghitung bulan kelahiran. Tinggal dia yang belum ada kemajuan apa-apa. Bagaimana bisa? Bahkan bercinta saja mereka tidak sempurna.

“Karen, gimana kabarmu, Nak? Sudah haid bulan ini?” Itu pertanyaan yang selalu diucapkan Umah, ibu Karen, saat menelepon dirinya. Membuat beban Karen bertambah saja!

“Aku malu ditanya terus sama teman-teman. Dianggap nggak mampu bikin anak!” Kalimat itu keluar dari Teddy, suaminya.

Sekali lagi Karen tidak bisa menyalahkan Teddy. Dia sudah begitu sabar terhadap Karen. Wajar kalau sekarang Teddy mulai merasa kesal mengingat Karen sama sekali tak ada kemajuan.

Karen memandangi wajahnya di cermin. Dia berwajah manis. Nyaman dilihat, paling tidak. Reproduksinya normal, biologis mendukung, haid teratur. Empat dokter spesialis Obstetri-Ginekologi (DSOG) yang didatanginya mengatakan tidak ada masalah dengan kandungannya. Semua kembali kepada Karen.

Semua kembali kepada Karen!

***

Sebuah Toyota Yaris perak membelok ke arah yang berlawanan dengan rumah Karen. Walaupun Teddy sudah melarang Karen berkonsultasi ke DSOG lagi, tapi Karen merasa dia harus pergi. Di kotanya ada lima DSOG, dan dari lima itu, empat sudah didatanginya. Masih ada harapan satu DSOG lagi, siapa tahu dia memberikan solusi yang masuk akal.Solusi nyata, bukan sekedar ucapan “kembali kepada Anda!”

Setelah mengantarkan Teddy ke bandara untuk dinas luar ke Kota Buaya, Karen berkunjung ke DSOG terakhir di Kota Kayu itu meski tanpa izin dari suaminya. Karen memarkir Toyota Yaris peraknya di depan Apotek Risca, tempat dr. Eko, Sp.OG praktik. Setelah menunggu beberapa saat, nama Karen pun dipanggil.

Dokter Eko ternyata sudah separuh baya umurnya, sekitar 45 tahun. Kulitnya kuning, seperti layaknya kulit asli orang Kota Kayu. Padahal kalau dilihat dari namanya, nama Eko bukan nama yang lazim di Kota Kayu ini. Sang dokter menyambut Karen dengan ramah.

“Apa yang bisa saya bantu, Bu?” Sapa dr. Eko.

“Saya selalu merasakan kesakitan saat intercouse, Dok.” Jawab Karen. Dia merasa tak ada gunanya bertele-tele dan malu-malu seperti yang sudah dia lakukan kepada empat DSOG sebelumnya. Karena malu-malu itulah, Karen mendapatkan jawaban yang sangat tidak memuaskan.

Sang dokter hanya memandang Karen. Lalu dia mengajukan beberapa pertanyaan sederhana. Karen menjawab semuanya juga mengatakan bahwa dokter tersebut adalah DSOG kelima yang dia datangi. Maksudnya, tolong, jangan ulangi nasihat DSOG-DSOG sebelumnya.

Ketika sang dokter tiba pada ucapan: “Semua kembali kepada Anda, Nyonya Karen!” Karena tak mampu lagi membendung air matanya. Dia menangis. Dengan tersedu Karen bercerita bahwa semua dokter berkata demikian dan tak satupun memberikan solusi.

“Beri saya obat, apa saja, Dok! Yang membuat saya tidak lagi merasakan sakit. Apa saja! Walaupun dengan obat itu ternyata saya tidak merasakan apa-apa, saya tidak peduli! Saya ingin menyelamatkan rumah tangga saya, Dok! Beri saya obat, Dok!” Rengek Karen tersedu-sedu. Itulah alasan Karen berangkat ke DSOG, dia ingin meminta resep obat yang membuat dirinya sama sekali tidak merasakan sakit saat bercinta. Walaupun untuk itu dia tidak akan merasakan apa-apa. Karen tak peduli. Dia hanya memikirkan suaminya. Karen mencintai Teddy dengan sepenuh hatinya.

“Nyonya Karen, saya tidak dapat menganjurkan obat apapun untuk Anda. Maaf sebelumnya, apa Anda sudah pernah berkonsultasi dengan psikiater?”

Karen menggeleng. Psikiater? Jelas belum pernah. Itu dokternya orang gila, ‘kan? Emangnya aku gila? Protes Karen dalam hati.

“Nyonya Karen, apa yang Anda alami sudah masuk ke ranah psikologi dan kejiwaan. Dan itu bukan bidang saya lagi. Begini saja, Anda saya rujuk ke seorang psikiater, bagaimana?”

Karen mengangguk lemah. Apapun itu, asal dia sembuh. Walaupun harus berurusan dengan dokternya orang gila! Karen membatin.

***

Hari itu juga, setelah keluar dari ruang praktik dr. Eko, Sp.OG, Karen melajukan mobilnya menuju Apotek Tessa untuk bertemu sang psikiater. Karen bahkan tidak tahu siapa nama psikiater itu.

Karen melihat papan nama-nama dokter yang praktik di apotek itu. Salah satunya berbunyi “dr. Enade, Sp.Kj.” Itu pasti dokternya! Batin Karen. Karen pun masuk ke dalam apotek dan mendaftarkan diri. Dirinya adalah pasien pertama sang dokter rupanya.

Ruangan praktik dr. Enade ternyata sangat sempit. Hanya ada sebuah ranjang pasien dan sebuah meja dokter. Tidak seperti dokter-dokter lain yang mejanya sangat penuh dengan berkas, meja dr. Enade sangat bersih. Sepertinya sang dokter sangat santai dalam bekerja.

Di hadapan dr. Enade, Karen duduk dan menyerahkan surat rujukan dari dr. Eko, Sp.OG, “Jadi, apa keluhan Anda?” Tanya dr. Enade, tepat setelah ia selesai membaca surat rujukan.

“Dokter Eko sudah menceritakan semuanya dalam surat rujukan itu!” Jawab Karen ketus.

“Betul. Tapi Anda harus tetao bercerita pada saya. Saya sama sekali tidak dapat membantu Anda apabila Anda tidak terbuka pada saya.” Jawab sang dokter tenang.

Cerita Karen pun mengalir deras. Sang dokter kadang menghentikan ceritanya untuk membuat catatan. Karen menangis dalam ceritanya. Sang dokter melakukan beberapa pemeriksaan terhadap tekanan darang Karen.

“Nyonya Karen, Anda sedang mengalami depresi seksual. Untuk menyembuhkannya, bukan hanya Anda yang datang berkonsultasi. Saya harap konsultasi berikutnya, suami Anda juga datang untuk berkonsultasi bersama.”

Karen diam saja sambil mengangguk-angguk.

“Saat ini saya akan memberikan resep untuk Anda. Hanya saja, tolong diingat bahwa ini obat psikotropika. Jadi Anda harus mengonsumsinya sesuai dengan resep yang saya berikan.”

***

Xanax, itu nama obat yang diresepkan dr. Enade pada Karen. Diminum sekali sehari di malam hari sesudah makan. Harus sesuai resep yang diberikan.

Karen menghela nafas. Memangnya apa yang dipikirkan dokter itu? Aku minum Xanax lebih dari sekali sehari? Emangnya aku mau mabuk?

Namun, ada hal lain yang berkelebat di pikiran Karen. Ya, dr. Enade tahu bahwa karen ragu meminumnya. Karena itu sang dokter memerintah Karen untuk mengonsumsi obat itu. Demi Karen sendiri.

Malam itu, Karen masih sendirian. Teddy baru akan pulang besok, Karen meminum sebutir Xanax dengan air putih dan berangkat tidur. Terucap dalam doa sebelum tidurnya, doa keselamatan untuk suaminya, juga dirinya. Doa kebahagiaan untuk suaminya, juga dirinya. Karen akan melakukan apapun, APAPUN, untuk kebahagiaan Teddy, suaminya.

————————–