Cinta Sepenuh Hati II: Maaf

“Para penumpang yang terhormat, dalam beberapa saat lagi pesawat ini akan mendarat. Silakan duduk di kursi Anda masing-masing serta kencangkan sabuk pengaman Anda!” Seorang pramugari memberikan informasi melalui speakerphone pesawat. Teddy memperbaiki sabuk pengamannya yang memang tidak pernah dia lepas sejak duduk dan pesawat berangkat. Pesawat yang membawanya pulang ke Kota Kayu. Pulang kepada Karen.

Karen. Ada rasa bersalah terbersit di hati Teddy. Sejak kejadian malam itu, dia dan Karen tak pernah membicarakannya. Namun, Teddy tahu, Karen tidak akan pernah lupa.

Teddy teringat akan malam sebelum keberangkatannya ke Kota Buaya. Karen menyambut kepulangannya dari lembur dengan lingerie berkonsep Fairy Princess lengkap dengan sayapnya. Lingerie cantik yang membuat tubuh putih dan mulus Karen makin memesona. Terbuat dari kain putih yang lembut dan tembus pandang. Hanya ada ornamen dua bunga yang letaknya di puncak dada Karen. Menggemaskan.

Teddy tiba-tiba menjadi segar kembali. Suami mana coba yang tidak bahagia ketika lelah mendera pulang kerja, dia pulang dan disambut istri dengan penuh gairah? Karen berhasil mengembalikan gairahnya. Karen begitu cantik!

Seperti biasa, Karen meraih tangan Teddy dan menciumnya. Jika biasanya Teddy membalas dengan mencium kening Karen, kali ini Teddy langsung meraih istrinya itu. Diciumnya bibir Karen. Yang dicium balas mencium. Makin lama makin dalam. Tanpa banyak basa-basi, Teddy mengendong Karen menuju kamar mereka.

Lalu tibalah saat Teddy harus melakukan kewajiban sebagai suami terhadap Karen. Wajah Karen langsung pucat. Teddy tahu, Karen pasti ketakutan sekarang.

“Karen, kamu mau punya anak?” Bisik Teddy lembut. Karen mengangguk cepat. Sisa rangsangan bertubi-tubi Teddy masih melekat di otaknya.

“Kalau gitu, tahan ya, sayang!” Bimbing Teddy. Teddy pun membaringkan Karen. Dia melakukannya sepelan mungkin. Teddy tahu dia tidak bisa tergesa-gesa. Karen akan kesakitan bila dia tak bisa bersabar. Dan semuanya akan berantakan. Percobaan enam bulan yang melelahkan.

Tiba-tiba Karen berteriak, “Aduuuhhh!!! Teddy, sakiiittt!!!! Sakiiittt!!!”

“Tahan ya, Sayang! Tahan! Kamu pingin hamil, kan?” Teddy mencoba meredakan kepanikan Karen. Selalu begitu! Batin Teddy. Namun, sekali lagi, setelah berulang kali, Karen menendang Teddy. Teddy termangu. Hilang sudah geloranya. Lemas sudah semuanya. Teddy merasa kesal sekali pada Karen. Selalu begini!

“Salahku apa, sih? Kenapa kamu nolak aku terus, Ren?” Teddy sedikit membentak.

Karen terdiam, meringkuk di balik selimut, menutupi tubuhnya yang tak berbusana. Teddy melihat air mata Karen. Namun, entah kenapa kali ini dia tak tersentuh hatinya sedikitpun. Teddy merasa terlalu kesal.

“Aku gak nolak kamu, Ted. Aku kesakitan. Rasanya seperti sekarat.” Jawab Karen tersedu.

“Ah, kamu berlebihan! Mana ada orang bercinta sesakit itu?” Sahut Teddy kesal. “Ini sudah enam bulan, Ren! Aku malu ditanya terus sama teman-teman. Dianggap aku nggak mampu bikin anak!”

Karen masih menangis. Teddy menarik selimut dan tidur memunggungi Karen.

“Sudahlah! Nggak usah nangis! Besok juga kamu pasti lupa!” Kata Teddy sebelum tidur.

“Aku nggak akan lupa, Ted. Aku nggak pernah lupa.” Jawab Karen pelan, masih tersedu.

***

Pesawat mulai bergoncang, pramugari menginformasikan bahwa pesawat melewati gugusan awan tebal. Rasanya seperti naik mobil di atas jalan hutan. Orang yang duduk di sebelah kanan dan kiri Teddy terbangun. Di kanan Teddy, di dekat jendela, duduk seorang gadis sepantaran adiknya yang masih kuliah semester tiga di ITS. Di kirinya, di dekat lorong, ada bapak separuh baya yang sepertinya pernah menjadi mitra kerja perusahaan Teddy. Tapi Teddy tak ambil pusing dengan mengajak bapak itu mengobrol, Teddy tak ingat di mana dan kapan mereka bekerja sama. Lagipula, bapak ini tadi tidur terus sepanjang perjalanan.

Pesawat masih bergoncang, tiba-tiba Teddy teringat pada Karen. Sedang apa dia sekarang? Apakah dia menangis lagi setelah mengantarkannya ke bandara? Rasa bersalah kembali mendera Teddy. Kalau sampai aku melihat mata Karen sembab saat menjemputku, akan kupeluk dan kucium dia saat itu juga! Aku nggak peduli sama orang lain! Batin Teddy.

Teddy jadi teringat saat pertama ia melihat Karen. Dia langsung jatuh cinta kepada gadis itu. Gadis yang aktif di organisasi kampus. Karen bukan yang tercantik di kampusnya. Wajahnya rata-rata. Hanya saja, dia manis sekali. Wajahnya bulat dibingkai rambut lebat berwarna coklat gelap sebahu, kulitnya putih langsat, mata sipit dengan hidung agak rendah, dan bibir mungil berwarna merah kehitaman, bersinergi membentuk sebuah lukisan indah ciptaan Tuhan di wajah Karen. Senyumnya memesona Teddy. Dan setelah enam tahun berpacaran, Teddy menikahi gadis yang tingginya 165 sentimeter itu. Sebelumnya Teddy mengira pernikahannya dengan Karen baik-baik saja, seperti kawan-kawannya yang lain. Sebulan setelah pernikahan, Karena akan hamil, dan melahirkan sembilan bulan kemudian. Apa salahnya sampai ini terjadi padanya dan Karen?

Pesawat terbang rendah, sebentar lagi mendarat. Teddy menghela nafas penuh syukur. Sepertinya pesawat ini dan seisinya berhasil melewati ancaman maut di angkasa.

Wajah Karen membayang di benak Teddy. Baru dua hari dirinya meninggalkan karen, tapi rasa rindunya tak tertahankan. Teddy menyadari, bagaimanapun keadaan Karen, dia mencintai istrinya. Dia mencintai karen sehingga tak mungkin rasanya dia mengikuti kata-kata Karen untuk menikah lagi saat dirinya mengeluh akan ketidakmampuan karen di atas ranjang.

“Mau sampai kapan kita seperti ini, Ren? Aku ingin merasakan yang suami lain rasakan. Dari sejak menikah sampai sekarang, aku tidak tahu bagaimana rasanya bercinta itu!”

Seperti biasa, Karen mulai menangis, sedih akan ucapan Teddy.

“Bukan maksudku, Ted. Aku juga ingin ngerasain yang kayak di tivi-tivi tuh. Perempuannya rasanya nikmatin banget! Aku pengen kayak gitu juga! Tapi gimana lagi? Sakitnya aku nggak tahan, Ted!” Karen terisak sebentar.

“Gini aja lah, kalau kamu memang pingin banget ngerasain apa yang suami lain rasakan, menikah sajalah lagi! Aku sadar aku yang nggak bisa membahagiakan kamu. Aku izinkan kamu menikah lagi!” Karen berkata menggebu-gebu, lelah didera rasa bersalah.

“Dan kalau kamu merasa gak mampu punya dua istri, aku rela mengalah. Aku rela kamu ceraikan supaya kamu ngedapetin kebahagiaan yang kamu inginkan!” Karen mengakhiri kata-katanya dengan masih menangis.

Teddy terdiam. Percakapan mereka berakhir. Seperti biasa, mereka menganggap tidak ada apa-apa lagi. Selesai. Mereka pun melanjutkan hari seperti biasa. Malamnya bercinta seperti biasa, dan gagal seperti biasa.

Pesawat yang harusnya sudah mendarat, tiba-tiba terbang kembali. Sang pilot tidak dapat menemukan celah di antara tebalnya awan agar pesawat mendarat dengan baik. Gadis di sebelah kanan Teddy gemetar, memegang rosarionya dan berdoa. Bapak di sebelah kiri Teddy berkomat-kamit mengucapkan Doa Nabi Yunus. Semua penumpang panik

Teddy malah teringat Karen. Akankah dia bisa tetap hidup untuk meminta maaf pada kekasihnya itu? Karen, maafkan aku… Lirih hati Teddy berbisik.

Setelah beberapa kali berputar di udara dan membuat semua penumpang panik, pesawat itu akhirnya mendarat. Teddy segera keluar lalu mencari Karen.

Wajah yang sudah dirindukannya itu muncul di sela-sela kerumunan penjemput. Teddy segera menghampiri Karen. Karen memamerkan senyumnya. Senyum yang membuat Teddy nyaris menangis karena rasa bersalah. Karen meraih tangah Teddy dan menciumnya. Teddy malah memeluk Karen erat.

“Maafkan aku, Sayang! Maafkan aku! Tahukah kamu betapa aku merindukanmu?” Ucap Teddy di telinga Karen.

Karen hanya terdiam, agak terkejut atas reaksi Teddy yang sedikit di luar dugaan. Tapi kemudian ia tersenyum. Sebelum Teddy meminta maaf, Karen sudah memaafkannya. Bagaimana tidak? Karen mencintai suaminya, bagaimana bisa ia tidak memaafkan Teddy?

Karen menyerahkan kunci mobil pada Teddy. Teddy meraihnya dan menggandeng tangan Karen untuk pulang. Ada janji di hati Teddy, ia akan menemani Karen sampai kapan pun. Dia akan sabar terhadap apa yang karen hadapi. Dia tidak akan mengecewakan karen lagi.

Cinta Sepenuh Hati I: Apapun Untukmu

Karen termangu di depan cermin. Dipandanginya siluet suaminya yang tertidur pulas dibungkus selimut. Air matanya menetes. Enam bulan sudah sejak hari pernikahan mereka. Namun, tak satu hari pun Karen maupun suaminya merasakan kebahagiaan sepasang manusia dewasa dalam pernikahan.

Semua bermula pada malam pertama, saat pertama kali Karen menjalankan tugas sebagai seorang istri. Karen bisa mengingat semuanya: ternyata membuat anak itu sangat menyiksa.

Karen dapat mengingat semua seperti peristiwa itu baru terjadi semenit yang lalu. Sakit luar biasa yang berasal dari dalam kemaluannya, menjalar ke kedua kaki juga kepalanya. Karen merasa seperti sedang bergulat melawan Malaikat Maut.

Sejak saat itu, sesi bercinta dengan suaminya pasti diakhiri dengan ketakutan dalam diri Karen. Awalnya Teddy, suami Karen, sangat sabar, “Kita coba besok, ya!” Ucap Teddy penuh pengertian. Tapi lama kelamaan Teddy menunjukkan sikap tidak suka dan sikap itu makin terasa seiring berjalannya waktu.

Karen tidak menyalahkan Teddy. Sudah enam bulan! Teman-teman Karen yang menikah hampir berbarengan dengannya sudah hamil dan menghitung bulan kelahiran. Tinggal dia yang belum ada kemajuan apa-apa. Bagaimana bisa? Bahkan bercinta saja mereka tidak sempurna.

“Karen, gimana kabarmu, Nak? Sudah haid bulan ini?” Itu pertanyaan yang selalu diucapkan Umah, ibu Karen, saat menelepon dirinya. Membuat beban Karen bertambah saja!

“Aku malu ditanya terus sama teman-teman. Dianggap nggak mampu bikin anak!” Kalimat itu keluar dari Teddy, suaminya.

Sekali lagi Karen tidak bisa menyalahkan Teddy. Dia sudah begitu sabar terhadap Karen. Wajar kalau sekarang Teddy mulai merasa kesal mengingat Karen sama sekali tak ada kemajuan.

Karen memandangi wajahnya di cermin. Dia berwajah manis. Nyaman dilihat, paling tidak. Reproduksinya normal, biologis mendukung, haid teratur. Empat dokter spesialis Obstetri-Ginekologi (DSOG) yang didatanginya mengatakan tidak ada masalah dengan kandungannya. Semua kembali kepada Karen.

Semua kembali kepada Karen!

***

Sebuah Toyota Yaris perak membelok ke arah yang berlawanan dengan rumah Karen. Walaupun Teddy sudah melarang Karen berkonsultasi ke DSOG lagi, tapi Karen merasa dia harus pergi. Di kotanya ada lima DSOG, dan dari lima itu, empat sudah didatanginya. Masih ada harapan satu DSOG lagi, siapa tahu dia memberikan solusi yang masuk akal.Solusi nyata, bukan sekedar ucapan “kembali kepada Anda!”

Setelah mengantarkan Teddy ke bandara untuk dinas luar ke Kota Buaya, Karen berkunjung ke DSOG terakhir di Kota Kayu itu meski tanpa izin dari suaminya. Karen memarkir Toyota Yaris peraknya di depan Apotek Risca, tempat dr. Eko, Sp.OG praktik. Setelah menunggu beberapa saat, nama Karen pun dipanggil.

Dokter Eko ternyata sudah separuh baya umurnya, sekitar 45 tahun. Kulitnya kuning, seperti layaknya kulit asli orang Kota Kayu. Padahal kalau dilihat dari namanya, nama Eko bukan nama yang lazim di Kota Kayu ini. Sang dokter menyambut Karen dengan ramah.

“Apa yang bisa saya bantu, Bu?” Sapa dr. Eko.

“Saya selalu merasakan kesakitan saat intercouse, Dok.” Jawab Karen. Dia merasa tak ada gunanya bertele-tele dan malu-malu seperti yang sudah dia lakukan kepada empat DSOG sebelumnya. Karena malu-malu itulah, Karen mendapatkan jawaban yang sangat tidak memuaskan.

Sang dokter hanya memandang Karen. Lalu dia mengajukan beberapa pertanyaan sederhana. Karen menjawab semuanya juga mengatakan bahwa dokter tersebut adalah DSOG kelima yang dia datangi. Maksudnya, tolong, jangan ulangi nasihat DSOG-DSOG sebelumnya.

Ketika sang dokter tiba pada ucapan: “Semua kembali kepada Anda, Nyonya Karen!” Karena tak mampu lagi membendung air matanya. Dia menangis. Dengan tersedu Karen bercerita bahwa semua dokter berkata demikian dan tak satupun memberikan solusi.

“Beri saya obat, apa saja, Dok! Yang membuat saya tidak lagi merasakan sakit. Apa saja! Walaupun dengan obat itu ternyata saya tidak merasakan apa-apa, saya tidak peduli! Saya ingin menyelamatkan rumah tangga saya, Dok! Beri saya obat, Dok!” Rengek Karen tersedu-sedu. Itulah alasan Karen berangkat ke DSOG, dia ingin meminta resep obat yang membuat dirinya sama sekali tidak merasakan sakit saat bercinta. Walaupun untuk itu dia tidak akan merasakan apa-apa. Karen tak peduli. Dia hanya memikirkan suaminya. Karen mencintai Teddy dengan sepenuh hatinya.

“Nyonya Karen, saya tidak dapat menganjurkan obat apapun untuk Anda. Maaf sebelumnya, apa Anda sudah pernah berkonsultasi dengan psikiater?”

Karen menggeleng. Psikiater? Jelas belum pernah. Itu dokternya orang gila, ‘kan? Emangnya aku gila? Protes Karen dalam hati.

“Nyonya Karen, apa yang Anda alami sudah masuk ke ranah psikologi dan kejiwaan. Dan itu bukan bidang saya lagi. Begini saja, Anda saya rujuk ke seorang psikiater, bagaimana?”

Karen mengangguk lemah. Apapun itu, asal dia sembuh. Walaupun harus berurusan dengan dokternya orang gila! Karen membatin.

***

Hari itu juga, setelah keluar dari ruang praktik dr. Eko, Sp.OG, Karen melajukan mobilnya menuju Apotek Tessa untuk bertemu sang psikiater. Karen bahkan tidak tahu siapa nama psikiater itu.

Karen melihat papan nama-nama dokter yang praktik di apotek itu. Salah satunya berbunyi “dr. Enade, Sp.Kj.” Itu pasti dokternya! Batin Karen. Karen pun masuk ke dalam apotek dan mendaftarkan diri. Dirinya adalah pasien pertama sang dokter rupanya.

Ruangan praktik dr. Enade ternyata sangat sempit. Hanya ada sebuah ranjang pasien dan sebuah meja dokter. Tidak seperti dokter-dokter lain yang mejanya sangat penuh dengan berkas, meja dr. Enade sangat bersih. Sepertinya sang dokter sangat santai dalam bekerja.

Di hadapan dr. Enade, Karen duduk dan menyerahkan surat rujukan dari dr. Eko, Sp.OG, “Jadi, apa keluhan Anda?” Tanya dr. Enade, tepat setelah ia selesai membaca surat rujukan.

“Dokter Eko sudah menceritakan semuanya dalam surat rujukan itu!” Jawab Karen ketus.

“Betul. Tapi Anda harus tetao bercerita pada saya. Saya sama sekali tidak dapat membantu Anda apabila Anda tidak terbuka pada saya.” Jawab sang dokter tenang.

Cerita Karen pun mengalir deras. Sang dokter kadang menghentikan ceritanya untuk membuat catatan. Karen menangis dalam ceritanya. Sang dokter melakukan beberapa pemeriksaan terhadap tekanan darang Karen.

“Nyonya Karen, Anda sedang mengalami depresi seksual. Untuk menyembuhkannya, bukan hanya Anda yang datang berkonsultasi. Saya harap konsultasi berikutnya, suami Anda juga datang untuk berkonsultasi bersama.”

Karen diam saja sambil mengangguk-angguk.

“Saat ini saya akan memberikan resep untuk Anda. Hanya saja, tolong diingat bahwa ini obat psikotropika. Jadi Anda harus mengonsumsinya sesuai dengan resep yang saya berikan.”

***

Xanax, itu nama obat yang diresepkan dr. Enade pada Karen. Diminum sekali sehari di malam hari sesudah makan. Harus sesuai resep yang diberikan.

Karen menghela nafas. Memangnya apa yang dipikirkan dokter itu? Aku minum Xanax lebih dari sekali sehari? Emangnya aku mau mabuk?

Namun, ada hal lain yang berkelebat di pikiran Karen. Ya, dr. Enade tahu bahwa karen ragu meminumnya. Karena itu sang dokter memerintah Karen untuk mengonsumsi obat itu. Demi Karen sendiri.

Malam itu, Karen masih sendirian. Teddy baru akan pulang besok, Karen meminum sebutir Xanax dengan air putih dan berangkat tidur. Terucap dalam doa sebelum tidurnya, doa keselamatan untuk suaminya, juga dirinya. Doa kebahagiaan untuk suaminya, juga dirinya. Karen akan melakukan apapun, APAPUN, untuk kebahagiaan Teddy, suaminya.

————————–

C*O*N*F*U*S*E*D

Aku tidak tahu
Apa yang kupikirkan
Yang kurasa hanyalah
Perasaanku berdebar

Aku tak tahu apa yang terjadi
Sebuah tanda tanya besar
Terukir di hatiku

Kucoba cari jawabannya
Kubuka lembar baru diary-ku
Agar aku merasa lebih ringan

Namun yang terjadi malah sebaliknya

Oh, Tuhan, what happen?
Aku bingung!

Magelang, 13 April 1999

Adik Kecil

Kurasakan getir di hatiku
Mendengar kabar dari kampung halamanku
Adik kecil kenapa pergi begitu cepat
Sebelum aku melihatmu tumbuh

Adik kecil…
Masih kuingat senyum ceriamu
Menyambutku di pintu

Adik kecil, kita tak dapat berjumpa lagi
Selamat jalan adik kecilku
Semoga Allah menerimamu di sisi-Nya
Engkau terlalu lugu untuk pergi

Ya, Allah, terimalah adik kecilku
Di sisi-Mu
Aku sayang adik kecilku

Magelang, 31 Maret 1999
Mengenang Dio, Adik kecil dari sepupu jauh, yang dekat denganku, yang meninggal karena toksoplasma diusianya yang (kira-kira) empat tahun.

Reformasi

Setahun yang lalu
Ada kabar yang menggemparkan
Nilai rupiah turun
Anjlok terhadap dollar Amerika

Dilanjutkan dengan naiknya harga sembako
Yang membuat rakyat gelisah
Lalu diumumkan kenaikan BBM dan TDL
Yang membuat rakyat semakin resah

Kini…
Banyak aksi mahasiswa
Menuntut reformasi dan rekonstruksi
Menuntut subsidi atas BBM dan TDL
Yang ditarik atas permintaan IMF

Tapi…
Aksi mahasiswa itu bukan aksi sembarangan
Telah gugur 6enam Pahlawan Reformasi
Yang berjuang demi rakyat kecil

Sayangnya…
Aksi mahasiswa itu ditunggangi oleh penyusup
Penyusup yang juga mempengaruhi massa
Untuk menjarah, merampok, menghancurkan, dan membajar toko-toko dan fasilitas umum
Yang membuat rakyat
Jadi semakin sengsara

Inikah suasana negeriku?
Kacau, tak dapat hidup tenang
Aku memang belum dewasa
Untuk memikirkannya

Reformasi…
Aku tak tahu artinya
Rekonstruksi…
Bahkan aku sulit mengejanya
Lalu apa yang dapat aku lakukan?
Menghadapi suasana yang makin memanas?

Haruskah aku diam melihat bumi Indonesia terbakar?
Ataukah…
Ah, aku tak tahu harus berkata apa
Karena aku hanya anak kecil!

Sumenep, 17 Mei 1998
Suasana seputar peristiwa Semanggi, di mata seorang anak yang baru saja merayakan ulang tahun ke 14 nya.