Kawan, Percayalah!

Kawanku…
Masihkah kauingat?
Desir angin pegunungan
Sepoi dan menyejukkan

Aliran sungai, tenang..
Bersih, menyegarkan

Kini, di manakah itu semua?
Mengapa yang kulihat hanyalah bara api dan deru debu?

Panas…, panas dan gerah
Tak ada lagi kesejukan
Tak ada lagi kesegaran

Kawan, dapatkah Engkau menjelaskan?
Semua yang terjadi?

Mau kauapakan lagi bumi ini?
Akankah Engkau mengembalikan segala kesejukan dan kesegaran
Ataukah Engkau akan meratakan bumi ini dengan daratan?

Kawan, percayalah!
Yang ‘kan terjadi di bumi pertiwi ini
Semua ada di tanganmu
Engkau yang pegang kendali!

Aku rindu kesejukan itu
Aku rindu kesegaran itu
Aku bosan dengan bara api
Aku bosan dengan teriakan-teriakan yang memekakkan telinga

Kawan, dapatkah Engkau mengembalikan semua yang telah pergi?

Tuhan, sadarkanlah kawanku…
Aku butuh kedamaian
‘Tuk lestarikan bumi pertiwi

Magelang, 10 November 1999
“Art and Peace”

Biarlah Terus Begini

Awan berarak sapu langit bersih
Sisakan kebiruan langit luas
Angin pun tak mengganggu
Bertiup sepoi, mendinginkan suasana

Hati gembira sambut mentari
Jalan telah ditemukan
Persoalan telah terpecahkan
Cinta telah berkembang

Mata hati tak lagi tersumbat
Senyum manis terukir indah
Hawa sejuk pun berhembus
Tiada lagi lara

Oh, Indahnya hidup
Bila terus begini
Dama senantiasa
Menyatu dalam jiwa

Biarkanlan hidup terus begini
Agar burung dapat terus bernyanyi

Magelang, 10 November 1999
“Art and Peace”

Selamat Malam, Mama…

Mama, apa itu, Mama?
Siapa mereka?

Mana, Anakku?
Siapa yang kau maksudkan?

Mereka yang membawa obor, Mama
Mereka yang memakai ikat kepala
Mereka yang mengendarai motor bak seorang pembalap

Mereka adalah pejuang, Sayang
Pejuang pembaharuan

Tapi, mengapa obor-obor itu mereka lemparkan ke arah toko-toko, Mama?

Sayang, pejuang tidak pernah melemparkan obor mereka ke arah toko
Mereka yang melakukannya adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab
Orang-orang yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan

Buat apa, Mama?
Bukankah itu berbahaya?

Memang, Anakku sayang
Merekalah yang membuat suasana keruh menjadi lebih keruh
Merekalah sebenarnya musuh pertiwi

Aku takut, Mama

sudahlah, Anakku! Tak perlu engkau takut!
Berdoalah semoga bumi pertiwi kembali tenang!
sekarang tidurlah!
Bermainlah dengan mimpi-mimpimu
sambut mentari esok dengan senyummu!

Baiklah, selamat malam, Mama!

Selamat tidur, Sayang!

Magelang, 8 November 1999
“Art and Peace”

SAKSI MATA

Andai awan bisa bicara
Dan angin dapat bernyanyi
Mereka akan senandungkan syair-syair duka

Sinar mentari yang membakar bumi,
Hembusan angin yang kencang,
Tiang listrik diperempatan,
Mereka semua bisu

Namun, anak-anak di emperan
Dan perempuan yang menjaga mereka,
Mereka yang melihat
Bagaimana sang ayah pergi meninggalkan mereka

Mereka tidak bisu
Merekalah saksi mata
Di hadapan mereka, orang-orang tak dikenal saling bertempur
saling membunuh, saling membakar

Mereka ingin berucap
Namun, mulut mereka terbungkam
Mereka tidak bisu
Namun, dibisukan

Mereka tidak tahu harus berkata apa
Dan pada siapa

Anak-anak di emperan
Yang selalu bertanya pada perempuan yang menjaganya
“Dimanakah ayah kami?”
“Kembalikan ayah kami!”

Sampai kapan anak-anak tersebut harus bertanya tentang ayah mereka yang telah tiada?
Berapa banyak lagi anak-anak yang harus kehilangan ayah mereka?

Semua ini tak perlu terjadi
Asal kita sadar
Dan bersatu bertekad menciptakan perdamaian

Marilah, kita bergandeng tangan
Dendangkan lagu suka
Bersama kita jaya

Magelang, 4 November 1999
Puisi ini juga diikutsertakan dalam “Art and Peace”

Seikat Tanya

Di tengah sepi kusendiri
Memandang sekelilingku
Belum sadar diriku dengan apa yang telah terjadi
Semua berlalu begitu cepat

Sambil termangu
Kumemandang langit
Sebuah tanda tanya besar
Terukir di dadaku

Sebenarnya apa yang terjadi?
Apa penyebab semua ini?
Mengapa hal ini menjadi hobi?

Oh, Tuhan…
Kenapa tiap hari ada kehancuran?
Ada pertempuran?
Kerusuhan?
Dan segala macam tindakan yang menyebabkan perpecahan?

Akankah bumiku terus begini?
Tak adakah yang dapat mengubahnya?
Tak dapatkah kita bergandengan tangan?
Dan menciptakan perdamaian?

Sungguh…
sangat mudah dilakukan
Asal ada kemauan dari setiap insan
‘Tuk ciptakan perdamaian
Dan masa-masa terindah di bumi pertiwi

Magelang, 30 Oktober 1999
Puisi ini diikutsertakan dalam lomba puisi bertema perdamaian “Art and Peace” di Denpasar, Bali, 1999.
Walaupun sama sekali tidak masuk nomisasi :p