Ma, di luar hujan, Ma…

Ma, di luar hujan, Ma…
Ma, dingin, Ma…

Tenang, Sayang…
Ada apa sampai kau menangis seperti ini?
Ada apa sampai kau ketakutan seperti ini?
Katakan pada Mama!

Entahlah, Ma…
Hujan tiba-tiba membuatku begitu ketakutan
Apakah ini ada hubungannya dengan ketertutupan kekasihku?

Ketertutupan kekasihmu?
Mengapa begitu?

Aku merasa sendiri
Ketika dia menolak bercerita kepadaku
Tiba-tiba hujan…
Benarkah aku harus belajar menjadi seseorang yang apatis?

Hei, anakku…
Apatis itu tidak baik!
Anak manis harus peduli pada lingkungan!
Apalagi jika dia kekasihmu sendiri…

Tapi, Ma…

Cobalah untuk mengerti!
Mungkin dia hanya butuh waktu
Tetap perhatikan dirinya
Hingga suatu saat, dia akan menyadari bahwa ada kau yang memperhatikan dirinya dan menyayanginya

Benarkah begitu, Ma?

Ya, Sayang…
Jadilah perempuan yang penuh kasih dan perhatian…
Karena itulah perhiasan dunia yang paling indah
Buatlah dia tersenyum bangga karena memiliki perhiasan terindah itu
Kau akan dihargai karenanya…

Baiklah, Ma…
Akan ku coba
Karena aku menyayangi dia

………

Terima kasih, Ma…

Sama-sama, Sayang…

Ditulis di Kantor Pusat Departemen Keuangan, Jl. Lapangan Banteng Timur, Jakarta. Pada 29 November 2004 pukul 11.35 WIB. Sebuah curahan hati Penulis saat itu.

2 Tanggapan

  1. kelopak-kelopak mawar terderai
    seperti kelok takdir di telapak tanganku
    segera meluncur ke arus entah

    ^_^
    Bagus banget puisi singkatnya πŸ™‚

  2. Jangan lupa cokelat hangat untuk si anak πŸ™‚

    Hahaha… cokelat hangat.. hm.. yummy.. :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: