Posted on 18 November 2009 by Yeptirani
Ma, di luar hujan, Ma…
Ma, dingin, Ma…
Tenang, Sayang…
Ada apa sampai kau menangis seperti ini?
Ada apa sampai kau ketakutan seperti ini?
Katakan pada Mama!
Entahlah, Ma…
Hujan tiba-tiba membuatku begitu ketakutan
Apakah ini ada hubungannya dengan ketertutupan kekasihku?
Ketertutupan kekasihmu?
Mengapa begitu?
Aku merasa sendiri
Ketika dia menolak bercerita kepadaku
Tiba-tiba hujan…
Benarkah aku harus belajar menjadi seseorang yang apatis?
Hei, anakku…
Apatis itu tidak baik!
Anak manis harus peduli pada lingkungan!
Apalagi jika dia kekasihmu sendiri…
Tapi, Ma…
Cobalah untuk mengerti!
Mungkin dia hanya butuh waktu
Tetap perhatikan dirinya
Hingga suatu saat, dia akan menyadari bahwa ada kau yang memperhatikan dirinya dan menyayanginya
Benarkah begitu, Ma?
Ya, Sayang…
Jadilah perempuan yang penuh kasih dan perhatian…
Karena itulah perhiasan dunia yang paling indah
Buatlah dia tersenyum bangga karena memiliki perhiasan terindah itu
Kau akan dihargai karenanya…
Baiklah, Ma…
Akan ku coba
Karena aku menyayangi dia
………
Terima kasih, Ma…
Sama-sama, Sayang…
Ditulis di Kantor Pusat Departemen Keuangan, Jl. Lapangan Banteng Timur, Jakarta. Pada 29 November 2004 pukul 11.35 WIB. Sebuah curahan hati Penulis saat itu.
DIarsipkan di bawah: Cinta, Puisi | Ditandai: Curhat, Puisi | 2 Komentar »
Posted on 3 September 2009 by Yeptirani
Rinai hujan menghiasi malam ini
Dingin, sepi, mencekam…
Irama yang mengalun
Gemericik… menakutkan…
Anak negeri bersiap
Pikul senjata laras panjang
Ke medan perang
Barisan terdepan
Anak negeri berebut posisi
Mencari yang terdepan
Bukan…
Bukannya mereka ingin penghargaan
Namun mereka memang ingin membela Ibu Pertiwi
Sekarang…
Jika mereka gugur…
Jika mereka pulang nama…
Siapa yang berani menggantikan mereka?
Perang belum usai
Namun pahlawan telah habis
Bagaimana dengan negeri ini?
Akankah Ibu Pertiwi tetap bersusah hati?
Siapa…
Siapa berani maju ke garis depan?
Tantang musuh…
Korbankan jiwa, raga, dan cinta
Siapa?
Tak adakah?
Dari sekian juta pemuda…
Semuanya pengecutkah?
Ibu Pertiwi membutuhkanmu, para pemuda…
Jadilah pandu sejati!
Lindungi Ibu Pertiwi!
Agar suatu saat nanti
Ibu Pertiwi tak lagi
Bersusah hati
Di usianya yang tak muda lagi
Magelang, 7 Februari 2000
“Di sela hujan yang deras, saat kegiatan belajar malam.”
DIarsipkan di bawah: Cinta, Puisi | Ditandai: Cinta, Curhat, Puisi | Leave a Comment »
Posted on 31 Agustus 2009 by Yeptirani
Gunung Galunggung nan agung
Tegak berdiri memaku bumi
Awan nan setia memayung
Tabir putih terhampar bersih
Hijau luas Lautan Hindia
Membentang sampai Antartika
Dan ikan-ikan di dalamnya
Berenang bebas penuh suka
Salju selimuti Jaya Wijaya
Putih terhampar tanpa batas
Lembut bak Kapas Koala
Sinar mentari pun terbias
Sahabat…
Agungnya Gunung Galunggung
Luasnya Lautan Hindia
Putihnya salju Jaya Wijaya
Tak seagung
Tak seluas
Tak seputih
Kasih antara kita
Seribu kreasi yang kita miliki
satukanlah dalam satu visi
Sahabat…
Persaudaraan antara kita
Semoga tak terputuskan
Bahkan oleh kapak yang paling tajam
Tujuh samudera sekalipun
Takkan dapat menggantikan seorang sahabat
Takkan dapat menandingi cinta kita
Takkan pernah dapat!
Pun bayu yang semilir
Rinai yang berjatuhan
Air yang mengalir
Dan badai yang menerjang
Mampukah mereka mengalahkan kita?
Sahabat…
Patrikan di nuranimu
Nama kita bersama
Tatokan di hatimu
Bias wajah kita
Jangan pernah berpaling, Sahabat…
Jangan pernah pergi
Kita satu, kita saudara
Kita saling mengasihi
Mari berdoa, Sahabat…
Kepada Tuhan yang Maha Esa
Cinta kasih kita
Takkan pernah luntur
Semua untuk satu
Satu untuk semua
All for one
One for all
-For my best friends-
Magelang, 6 Desember 1999, 09:00 WIB
~Dalam rangka ulang tahun SPITA yang ketiga~
“MARCAPRINOVE SPITA … YES”
Yeptirani Syari
Elly Noviyanti
Sanita Rahmawati
DIarsipkan di bawah: Cinta, Puisi, Ulang Tahun | Ditandai: Cinta, Puisi, Ulang Tahun | Leave a Comment »
Posted on 18 Agustus 2009 by Yeptirani
Siang surya kuat bersinar
Garisan kuning emas memancar
Tujuh warna indah terpendar
Pantulan sinar pelangi pudar
Merekah indah si mawar merah
Bertiup bayu sepoi mendayu
Tabir putih terhampar bersih
Surya bersinar cahaya terpancar
Awan memayung Gunung Arjuna
Burung Layang-layang terbang
Berlomba ke utara
Mencari kesunyian, alam tenang
Tenang sirna sekejap mata
Kala badai kejam menerpa
Sisakan hancur binasa
Tujuh warna lenyap tak bersisa
Sampai kapan harus berpilin?
Melawan angin di sela turbin
Sampai kapan terus berlari?
Dikejar kabut di pagi hari
Kala tujuh warna kembali
Dan badai pun pergi
Kala sang bayu tenang bertiup
Kembalikan semangat hidup
Pun makhluk membuka mata
Nikmati emas sang surya
Kala itu juga
Hidup baru telah tiba.
Magelang, 3 Desember 1999
DIarsipkan di bawah: Cinta, Puisi | Ditandai: Cinta, Curhat, Puisi | Leave a Comment »
Posted on 20 Juli 2009 by Yeptirani
Desir angin mengalun lembut
Dedaunan melambai perlahan
Rinai-rinai berjatuhan
Awan kelabu berkabut
Burung Gereja berkicau riang
Melayang-layang
Berlomba capai daerah selatan
Menyambut musim penghujan
Hari gelap tanpa sang Nilam Cahya
Hati sangsai menunggu kedatangannya
Senandung lagu cairkan kecemasan
“Mendung Tak Berarti Hujan”
Namun rinai telah menggenang
Awan pun tak beranjak
Tetap berdiri tegak
Di tengah kesombongan
30 November nan hujan
Samakah dengan di sana?
Hujan dan rinai meramaikan suasana
Nilam Cahya terhalang awan
Semoga…
30 November di sana
Penuh keceriaan
Sebab mendung tak berarti hujan
Tidar Valley, November 30th, 1999
For my bestfriend ELLY NOVIYANTI on her 18th birthday.
DIarsipkan di bawah: Cinta, Puisi, Ulang Tahun | Ditandai: Cinta, Curhat, Puisi, Ulang Tahun | 1 Komentar »