PANDU SEJATI

Rinai hujan menghiasi malam ini
Dingin, sepi, mencekam…
Irama yang mengalun
Gemericik… menakutkan…

Anak negeri bersiap
Pikul senjata laras panjang
Ke medan perang
Barisan terdepan

Anak negeri berebut posisi
Mencari yang terdepan

Bukan…
Bukannya mereka ingin penghargaan
Namun mereka memang ingin membela Ibu Pertiwi

Sekarang…
Jika mereka gugur…
Jika mereka pulang nama…
Siapa yang berani menggantikan mereka?

Perang belum usai
Namun pahlawan telah habis

Bagaimana dengan negeri ini?
Akankah Ibu Pertiwi tetap bersusah hati?

Siapa…
Siapa berani maju ke garis depan?
Tantang musuh…
Korbankan jiwa, raga, dan cinta

Siapa?
Tak adakah?

Dari sekian juta pemuda…
Semuanya pengecutkah?

Ibu Pertiwi membutuhkanmu, para pemuda…
Jadilah pandu sejati!
Lindungi Ibu Pertiwi!

Agar suatu saat nanti
Ibu Pertiwi tak lagi
Bersusah hati
Di usianya yang tak muda lagi

Magelang, 7 Februari 2000
“Di sela hujan yang deras, saat kegiatan belajar malam.”

♥All for One, One for All♥

Gunung Galunggung nan agung
Tegak berdiri memaku bumi
Awan nan setia memayung
Tabir putih terhampar bersih

Hijau luas Lautan Hindia
Membentang sampai Antartika
Dan ikan-ikan di dalamnya
Berenang bebas penuh suka

Salju selimuti Jaya Wijaya
Putih terhampar tanpa batas
Lembut bak Kapas Koala
Sinar mentari pun terbias

Sahabat…
Agungnya Gunung Galunggung
Luasnya Lautan Hindia
Putihnya salju Jaya Wijaya

Tak seagung
Tak seluas
Tak seputih
Kasih antara kita

Seribu kreasi yang kita miliki
satukanlah dalam satu visi

Sahabat…
Persaudaraan antara kita
Semoga tak terputuskan
Bahkan oleh kapak yang paling tajam

Tujuh samudera sekalipun
Takkan dapat menggantikan seorang sahabat
Takkan dapat menandingi cinta kita
Takkan pernah dapat!

Pun bayu yang semilir
Rinai yang berjatuhan
Air yang mengalir
Dan badai yang menerjang
Mampukah mereka mengalahkan kita?

Sahabat…
Patrikan di nuranimu
Nama kita bersama
Tatokan di hatimu
Bias wajah kita

Jangan pernah berpaling, Sahabat…
Jangan pernah pergi
Kita satu, kita saudara
Kita saling mengasihi

Mari berdoa, Sahabat…
Kepada Tuhan yang Maha Esa
Cinta kasih kita
Takkan pernah luntur

Semua untuk satu
Satu untuk semua
All for one
One for all

-For my best friends-
Magelang, 6 Desember 1999, 09:00 WIB

~Dalam rangka ulang tahun SPITA yang ketiga~
“MARCAPRINOVE SPITA … YES”
Yeptirani Syari
Elly Noviyanti
Sanita Rahmawati

Tujuh Warna

Siang surya kuat bersinar
Garisan kuning emas memancar
Tujuh warna indah terpendar
Pantulan sinar pelangi pudar

Merekah indah si mawar merah
Bertiup bayu sepoi mendayu
Tabir putih terhampar bersih
Surya bersinar cahaya terpancar

Awan memayung Gunung Arjuna
Burung Layang-layang terbang
Berlomba ke utara
Mencari kesunyian, alam tenang

Tenang sirna sekejap mata
Kala badai kejam menerpa
Sisakan hancur binasa
Tujuh warna lenyap tak bersisa

Sampai kapan harus berpilin?
Melawan angin di sela turbin
Sampai kapan terus berlari?
Dikejar kabut di pagi hari

Kala tujuh warna kembali
Dan badai pun pergi
Kala sang bayu tenang bertiup
Kembalikan semangat hidup

Pun makhluk membuka mata
Nikmati emas sang surya
Kala itu juga
Hidup baru telah tiba.

Magelang, 3 Desember 1999

Mendung Tak Berarti Hujan

Desir angin mengalun lembut
Dedaunan melambai perlahan
Rinai-rinai berjatuhan
Awan kelabu berkabut

Burung Gereja berkicau riang
Melayang-layang
Berlomba capai daerah selatan
Menyambut musim penghujan

Hari gelap tanpa sang Nilam Cahya
Hati sangsai menunggu kedatangannya
Senandung lagu cairkan kecemasan
“Mendung Tak Berarti Hujan”

Namun rinai telah menggenang
Awan pun tak beranjak
Tetap berdiri tegak
Di tengah kesombongan

30 November nan hujan
Samakah dengan di sana?
Hujan dan rinai meramaikan suasana
Nilam Cahya terhalang awan

Semoga…
30 November di sana
Penuh keceriaan
Sebab mendung tak berarti hujan

Tidar Valley, November 30th, 1999
For my bestfriend ELLY NOVIYANTI on her 18th birthday.

24 November

Look at those…
Berdiri megah sang Gunung Sumbing
Tonggak pemaku bumi nan kering
Awan memayung gunung nan hijau
Biaskan garis hitam di sela kemarau

Angin sepoi usir kabut
Pagi nan dingin sepi
Orang-orang pelari memulai aksi
Beranikan diri melawan kabut

Mata berperang melawan kantuk
Hari telah dimulai
Jangan biarkan jiwa yang sangsai
Kuasai diri kita yang mulai terantuk

Pagi hari nan hujan
Sambut mentari tak kunjung datang
Kesal hati melihat awan
Berarak perlahan menghalang

Oh, di mana mentariku
Jangan halangi sinarnya
Dingin kurasa
Tanpa sinar emas mendaru

24 November ceria
Mengapa tiba di hari Rabu?
Saat aku harus lari dan teriak
Senandungkan lagu…

24 November di Tidar
samakah dengan di sana?
Hujan dan dingin
Memulai hari dengan lari

24 November di sana?

Lembah Tidar, 24 November 1999
Untuk Abang Absenku: (Alm.) Semitetelepta Ronald Mparesi, di ulang tahunnya yang ke 18.
“Bang Semi, Abang belum sempat membaca puisi untuk Abang ini.”